Dilihat : 750 x

Terapi Belatung : Obat Sembuhkan Luka Diabetes?

Penulis :

Terapi Belatung : Obat Sembuhkan Luka Diabetes?

Bandung, CMIHOSPITAL.com – Bagi kebanyakan orang, melihat belatung pada tempat sampah saja sudah membuat merinding dan ingin segera menjauhi tempat tersebut. Jika begitu, membayangkan adanya luka yang dihinggapi belatung dan membiarkannya memakan daging di luka kita pasti akan terasa seperti mimpi buruk.


Bagi penderita diabetes, luka pada tangan dan kaki bisa menjadi masalah yang sangat serius dan sulit ditangani. Hal ini disebabkan karena penyakit diabetes dapat menghambat aliran darah pada kaki atau tangan sehingga bisa menghambat proses penyembuhan luka dan meningkatkan risiko infeksi.

 

Sejarah Penggunaan Belatung sebagai Obat Luka

Sejak jaman dahulu, para dokter banyak menggunakan belatung untuk menangani luka, baik sebelum terciptanya obat antibiotik atau saat kekurangan tenaga dan bahan medis ketika masa perang.


Dengan terhentinya masa perang dan terciptanya obat antibiotik, penggunaan terapi belatung mulai jarang dilakukan. Namun, seiring berjalannya waktu, kasus resistensi atau kebal terhadap antibiotik mulai meningkat, terlebih pada pasien diabetes sehingga terapi belatung pun mulai digunakan kembali.

 

Bagaimana Cara Kerja Terapi Belatung untuk Penanganan Luka Diabetes?

Biasanya, tenaga medis akan menyediakan belatung yang dikembangbiakkan sedemikian rupa agar steril dan penggunaannya aman. Belatung-belatung itu kemudian akan diletakkan di luka pasien dan ditutup dengan kain atau stocking agar para belatung tersebut bekerja memakan jaringan yang mati pada luka, proses ini disebut dengan debridement.


Beberapa orang pasti akan bertanya, "Jika hanya menghilangkan jaringan mati, kenapa tidak dilakukan oleh dokter saja?"


Dokter bisa saja melakukan proses debridement ini dengan pisau bedah, namun cukup sulit untuk dokter membedakan mana jaringan yang sudah mati dan mana jaringan yang masih sehat. Hal ini bisa berisiko membuang jaringan yang tidak mati atau menyisakan jaringan mati yang tidak terlihat sehingga risiko infeksi tetap ada.


Di sisi lain, belatung bisa membedakan jaringan mati dengan jaringan normal dan hanya memakan jaringan yang mati saja. Selain itu, belatung juga mengeluarkan enzim yang dapat mengurangi risiko infeksi, peradangan dan dapat memicu pertumbuhan jaringan baru pada luka. Berdasarkan fakta ini, pada tahun 2005 FDA menyetujui penggunaan belatung untuk keperluan medis.

Apa Kekurangan Terapi Belatung Ini?
●    Belum banyak tersedia di fasilitas kesehatan umum
●    Biayanya relatif mahal
●    Tidak semua pasien bisa sembuh dengan terapi ini
●    Terapi bisa gagal dan membuat pasien mengalami radang di sekitar luka, perdarahan atau infeksi tulang
●    Pasien merasakan sensasi menggelitik, rasa tidak nyaman dan sakit yang lebih intens dibandingkan dengan proses debridement yang dilakukan oleh dokter dengan pisau bedah
●    Hanya berlaku untuk penanganan luka diabetes saja


Terkait poin terakhir, pasien diabetes masih harus berhati-hati kedepannya agar tidak mengalami luka lagi. Luka yang sulit sembuh merupakan salah satu dampak dari diabetes yang sudah kronis, maka dari itu solusi yang terbaik adalah dengan menyembuhkan masalah utamanya, yaitu penyakit diabetes.


Hanya dengan melakukan terapi belatung, meminum obat penurun gula darah dan melakukan suntik insulin tidak akan menyembuhkan diabetes melainkan hanya menekan atau menangani komplikasi buruk yang ditimbulkan diabetes.


Terapi atau obat yang dapat menyembuhkan diabetes secara total salah satunya tersedia di Klinik Utama CMI. Selain menghindari komplikasi yang tidak diinginkan seperti luka yang tidak kunjung sembuh, konsumsi obat atau suntik yang berpotensi dijalani seumur hidup pun bisa diberhentikan seiring dengan sembuhnya diabetes.
Konsultasikan pada dokter kami secara gratis melalui Kontak Klinik Utama CMI


Alamat: Jl. Tubagus Ismail VII No. 21, Sekeloa, Kecamatan Coblong, Jawa Barat 40134
Telepon: (022) 253 1000
WA: 0811 9161 166
Email: info@cmihospital.com

Terapi Belatung : Obat Sembuhkan Luka Diabetes?

-

Share on: