Yuk Mengenal Kanker Usus Besar: Gejala, Penyebab, dan Faktor Risikonya
Penulis :
Kanker usus besar mungkin bukan penyakit yang sering dibicarakan dalam percakapan sehari-hari. Banyak orang bahkan baru mencari informasi ketika menemukan darah pada tinja, mengalami perubahan pola buang air besar, atau mendapatkan hasil pemeriksaan yang tidak normal.
Padahal, kanker usus besar dapat berkembang perlahan dan pada tahap awal tidak selalu menimbulkan keluhan yang jelas. Secara global, kanker kolorektal termasuk salah satu kanker yang paling sering ditemukan dan menjadi penyebab kematian akibat kanker yang cukup besar. WHO mencatat sekitar 1,9 juta kasus baru kanker kolorektal terjadi pada 2022.
Yang menarik, ada anggapan bahwa kanker usus besar hanya perlu dikhawatirkan oleh orang lanjut usia. Anggapan ini mulai perlu dipertanyakan. Risiko memang meningkat seiring bertambahnya usia, tetapi kanker kolorektal juga dapat terjadi pada orang yang lebih muda. WHO bahkan mencatat adanya peningkatan beban penyakit pada kelompok usia 30–50 tahun di sejumlah negara.
Lalu, apa sebenarnya kanker usus besar? Apa gejalanya? Dan siapa yang lebih berisiko?
Mari mengenalnya lebih dekat.
Mengenal "Tempat" Kanker Ini Berkembang
Usus besar merupakan bagian akhir dari sistem pencernaan yang terdiri dari kolon dan rektum. Organ ini berperan dalam menyerap air serta membentuk dan menyimpan tinja sebelum dikeluarkan dari tubuh.
Kanker usus besar terjadi ketika sel-sel di jaringan kolon atau rektum mengalami perubahan dan berkembang secara tidak terkendali.
Dalam banyak kasus, kanker kolorektal dapat berawal dari polip atau pertumbuhan jaringan tertentu pada dinding usus. Tidak semua polip akan menjadi kanker, tetapi sebagian jenis polip dapat berkembang menjadi kanker seiring waktu.
Inilah salah satu alasan mengapa pemeriksaan dan deteksi dini memiliki peran penting. Kelainan yang ditemukan lebih awal dapat dievaluasi dan ditangani sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Jangan Tunggu Sakit Perut Hebat Baru Curiga
Salah satu masalah kanker usus besar adalah gejalanya tidak selalu dramatis.
Pada tahap awal, seseorang bahkan dapat merasa sehat dan tetap beraktivitas seperti biasa. Ketika gejala mulai muncul, keluhannya pun terkadang dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Perubahan Pola Buang Air Besar
Perubahan kebiasaan buang air besar yang berlangsung terus-menerus perlu diperhatikan.
Misalnya, seseorang yang biasanya buang air besar secara teratur tiba-tiba mengalami:
- Diare berulang.
- Sembelit yang tidak biasa.
- Buang air besar lebih sering.
- Pola buang air besar berubah tanpa alasan yang jelas.
- Bentuk tinja menjadi lebih kecil atau sempit.
Perubahan tersebut tidak otomatis berarti kanker. Namun, apabila menetap atau terus berulang, sebaiknya tidak hanya dianggap sebagai masalah pencernaan biasa.
2. Darah pada Tinja
Darah pada tinja merupakan salah satu tanda yang perlu mendapatkan perhatian.
Warna darah dapat terlihat merah terang atau lebih gelap, tergantung lokasi dan sumber perdarahan. Masalahnya, sebagian orang langsung menyimpulkan bahwa darah tersebut pasti berasal dari wasir.
Ini bagian yang cukup kontroversial tetapi penting: darah saat buang air besar memang bisa disebabkan oleh wasir, tetapi tidak bijaksana langsung menganggap semua perdarahan sebagai wasir tanpa pemeriksaan.
Kondisi seperti wasir dan kelainan pada usus dapat terjadi bersamaan. Karena itu, perdarahan yang berulang sebaiknya diperiksa, terutama jika disertai perubahan pola buang air besar atau keluhan lainnya.
3. Perut Sering Tidak Nyaman
Kanker usus besar dapat disertai keluhan seperti:
- Kram perut.
- Nyeri perut.
- Perut terasa penuh atau kembung.
- Rasa tidak nyaman yang menetap.
Keluhan seperti ini memang sangat umum dan dapat disebabkan banyak kondisi lain. Namun, jika muncul terus-menerus dan disertai tanda lain, pemeriksaan medis sebaiknya tidak ditunda.
4. Berat Badan Turun Tanpa Sebab yang Jelas
Penurunan berat badan yang terjadi tanpa perubahan pola makan atau aktivitas perlu diperhatikan.
Terlebih jika penurunan berat badan disertai hilangnya nafsu makan, perubahan pola buang air besar, atau tubuh terasa semakin lemah.
5. Tubuh Mudah Lelah
Perdarahan kecil yang berlangsung lama dapat menyebabkan kekurangan zat besi dan anemia pada sebagian pasien.
Akibatnya, seseorang dapat merasa mudah lelah, kurang bertenaga, atau sulit melakukan aktivitas yang sebelumnya terasa ringan.
Jadi, Apa Penyebab Kanker Usus Besar?
Tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan semua kasus kanker usus besar.
Kanker biasanya berkembang melalui proses yang melibatkan perubahan pada sel, faktor genetik, usia, lingkungan, serta kebiasaan hidup.
Beberapa faktor yang diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal meliputi pola makan tertentu, kurang aktivitas fisik, obesitas, merokok, konsumsi alkohol, riwayat keluarga, dan kondisi medis tertentu.
Artinya, seseorang tidak seharusnya menyalahkan satu makanan atau satu kebiasaan sebagai penyebab tunggal.
Makanan Sehari-hari: Perlu Khawatir atau Justru Perlu Lebih Bijak?
Pola makan menjadi salah satu bagian yang sering dibicarakan ketika membahas kanker usus besar.
Pola makan dengan konsumsi tinggi daging merah dan daging olahan serta rendah buah dan sayuran berkaitan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal.
Namun, ini bukan berarti seseorang harus menghindari satu jenis makanan secara ekstrem.
Yang lebih penting adalah melihat pola makan secara keseluruhan.
Kebiasaan makan yang lebih seimbang dapat mencakup:
- Memperbanyak sayuran dan buah.
- Memilih sumber protein yang beragam.
- Memperhatikan jumlah makanan olahan.
- Mengurangi konsumsi daging olahan secara berlebihan.
- Menjaga berat badan.
- Menghindari pola makan yang sangat tinggi kalori secara terus-menerus.
Pencegahan bukan tentang mencari satu "makanan ajaib", melainkan membangun kebiasaan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Siapa yang Lebih Perlu Waspada?
Risiko kanker usus besar tidak sama pada setiap orang.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko antara lain:
Usia
Risiko kanker kolorektal secara umum meningkat seiring bertambahnya usia, meskipun penyakit ini juga dapat terjadi pada orang yang lebih muda.
Riwayat Keluarga
Memiliki anggota keluarga dekat dengan kanker kolorektal dapat meningkatkan risiko.
Pada kondisi tertentu, faktor genetik seperti sindrom Lynch atau familial adenomatous polyposis (FAP) juga dapat berperan.
Pernah Memiliki Polip
Riwayat polip tertentu pada usus juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kanker kolorektal.
Penyakit Radang Usus
Kondisi seperti penyakit Crohn dan kolitis ulseratif dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal, terutama pada kondisi tertentu dan durasi penyakit yang lebih panjang.
Obesitas dan Kurang Aktivitas
Berat badan berlebih dan gaya hidup yang kurang aktif termasuk faktor yang berkaitan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal.
Merokok dan Alkohol
Kebiasaan merokok serta konsumsi alkohol juga termasuk faktor risiko yang perlu diperhatikan.
Bagian yang Sering Terlupakan: Kanker Bisa Datang Tanpa "Riwayat Keluarga"
Ada anggapan bahwa seseorang aman dari kanker usus besar selama keluarganya tidak memiliki riwayat penyakit tersebut.
Sayangnya, anggapan ini tidak tepat.
Riwayat keluarga memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor. Seseorang tanpa riwayat kanker dalam keluarga tetap dapat mengalami kanker kolorektal karena berbagai faktor lain.
Karena itu, tidak memiliki riwayat keluarga bukan berarti tidak perlu peduli terhadap gejala maupun gaya hidup.
Deteksi Dini Bukan Berarti Menunggu Muncul Gejala
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap pemeriksaan hanya diperlukan ketika tubuh sudah terasa sakit.
Padahal, kanker usus besar dapat tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Pemeriksaan skrining ditujukan untuk menemukan kelainan sebelum kanker berkembang lebih jauh atau menemukan kanker pada tahap yang lebih awal.
Jenis dan waktu pemeriksaan tidak selalu sama untuk setiap orang. Orang dengan risiko lebih tinggi, misalnya karena riwayat keluarga atau kondisi tertentu, dapat memerlukan strategi pemeriksaan yang berbeda.
Karena itu, konsultasikan kebutuhan skrining dengan tenaga medis berdasarkan usia, riwayat kesehatan, dan faktor risiko Anda.
Apa yang Bisa Dilakukan Mulai Sekarang?
Tidak semua kanker usus besar dapat dicegah. Namun, beberapa langkah dapat membantu menurunkan risiko.
Mulailah dari hal yang realistis:
- Berhenti merokok.
- Lebih aktif bergerak setiap hari.
- Menjaga berat badan tetap sehat.
- Memperbanyak buah dan sayuran.
- Membatasi konsumsi daging olahan.
- Menghindari konsumsi alkohol atau membatasinya.
- Tidak mengabaikan perubahan pola buang air besar.
- Segera memeriksakan darah pada tinja yang berulang.
- Mengetahui riwayat kesehatan keluarga.
- Mendiskusikan kebutuhan pemeriksaan dengan tenaga medis.
WHO menyebut perubahan gaya hidup dan deteksi dini sebagai bagian penting dalam mengurangi beban kanker kolorektal.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul tetapi Jarang Ditanyakan
Apakah darah pada tinja selalu berarti kanker usus besar?
Tidak. Darah pada tinja dapat disebabkan berbagai kondisi, termasuk wasir. Namun, perdarahan yang berulang atau disertai gejala lain sebaiknya diperiksa agar penyebabnya dapat diketahui.
Apakah orang muda bisa terkena kanker usus besar?
Bisa. Walaupun risiko meningkat dengan usia, kanker kolorektal juga dapat terjadi pada usia lebih muda. Karena itu, keluhan yang menetap tidak sebaiknya diabaikan hanya karena seseorang masih muda.
Apakah sembelit pasti merupakan tanda kanker usus besar?
Tidak. Sembelit sangat umum dan memiliki banyak penyebab. Kekhawatiran menjadi lebih besar apabila sembelit merupakan perubahan baru yang menetap atau disertai darah pada tinja, penurunan berat badan, nyeri perut, atau keluhan lain.
Kalau tidak ada riwayat kanker dalam keluarga, apakah saya aman?
Tidak sepenuhnya. Riwayat keluarga hanya salah satu faktor risiko. Kanker kolorektal juga dapat dipengaruhi oleh usia, pola hidup, berat badan, aktivitas fisik, merokok, alkohol, dan faktor lainnya.
Apakah pola makan sehat menjamin bebas kanker usus besar?
Tidak ada pola makan yang dapat menjamin seseorang terbebas dari kanker. Namun, pola hidup sehat dapat membantu menurunkan sejumlah faktor risiko dan mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Kapan sebaiknya memeriksakan diri?
Segera konsultasikan jika terdapat darah pada tinja, perubahan pola buang air besar yang menetap, nyeri perut yang tidak kunjung membaik, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, atau kelelahan yang tidak biasa. Jangan menunggu gejala menjadi berat.
Jangan Tunggu Usus "Berteriak" Baru Didengarkan
Kanker usus besar bukan penyakit yang hanya perlu dipikirkan ketika seseorang sudah tua atau memiliki keluarga dengan riwayat kanker. Risiko memang berbeda pada setiap orang, tetapi gejala yang menetap tetap layak mendapatkan perhatian.
Perubahan pola buang air besar, darah pada tinja, nyeri perut berkepanjangan, penurunan berat badan tanpa sebab, dan kelelahan bukan berarti seseorang pasti mengalami kanker. Namun, keluhan tersebut juga tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai masalah ringan tanpa evaluasi.
Semakin cepat penyebab suatu keluhan diketahui, semakin cepat pula langkah yang tepat dapat ditentukan. Deteksi pada tahap awal juga dapat memberikan peluang penanganan yang lebih baik.
Jika Anda memiliki keluhan yang mengarah pada gangguan usus, faktor risiko kanker usus besar, atau riwayat kanker dalam keluarga, Anda dapat berkonsultasi dengan tenaga medis untuk mendapatkan evaluasi sesuai kondisi. Jangan menunggu sampai keluhan mengganggu aktivitas sehari-hari untuk mulai mencari tahu penyebabnya.