Yuk Mengenal Kanker Ovarium: Gejala, Penyebab, dan Faktor Risikonya
Penulis :
Kanker Ovarium Itu Seperti Apa?
Kanker ovarium merupakan salah satu jenis kanker yang berkembang pada ovarium, yaitu dua organ kecil dalam sistem reproduksi wanita yang berada di sisi kanan dan kiri rahim. Ovarium berperan menghasilkan sel telur sekaligus hormon seperti estrogen dan progesteron.
Yang membuat kanker ovarium perlu mendapat perhatian adalah gejalanya yang pada awalnya dapat terlihat seperti gangguan pencernaan atau keluhan sehari-hari. Perut mudah kembung, cepat kenyang, sering buang air kecil, atau terasa tidak nyaman di bagian panggul sering kali dianggap sebagai masalah ringan.
Padahal, apabila keluhan tersebut muncul berulang, semakin sering, atau berbeda dari kondisi tubuh biasanya, pemeriksaan medis perlu dipertimbangkan.
Kanker ovarium bukan hanya satu jenis penyakit. Terdapat berbagai tipe dan subtipe kanker ovarium, dan sebagian kanker yang berada di sekitar ovarium juga dapat berasal dari tuba falopi atau lapisan peritoneum.
Sebelum Membahas Penyebab, Ada Satu Hal yang Perlu Diluruskan
Ada anggapan bahwa kanker ovarium hanya perlu dicurigai pada wanita yang sudah lanjut usia.
Anggapan ini tidak sepenuhnya benar.
Risiko kanker ovarium memang meningkat seiring bertambahnya usia dan penyakit ini lebih sering ditemukan pada wanita setelah menopause. Namun, usia bukan satu-satunya faktor yang perlu diperhatikan. Riwayat kanker dalam keluarga, perubahan gen tertentu, endometriosis, dan beberapa kondisi lainnya juga dapat meningkatkan risiko.
Artinya, mengenali gejala dan faktor risiko tetap penting meskipun seseorang belum memasuki usia lanjut.
Gejala Kanker Ovarium yang Sering Disangka Masuk Angin atau Maag
Salah satu tantangan kanker ovarium adalah keluhannya dapat menyerupai masalah kesehatan yang lebih umum.
Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Perut Sering Kembung
Kembung sesekali setelah makan tentu bukan berarti kanker. Namun, apabila perut sering terasa penuh atau kembung dan keluhan tersebut menetap atau semakin mengganggu, sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai masalah pencernaan biasa.
2. Perut Terasa Membesar atau Penuh
Sebagian wanita merasakan perubahan pada ukuran atau rasa penuh di perut. Perubahan yang tidak biasa dan berlangsung terus-menerus perlu diperhatikan.
3. Nyeri Perut atau Panggul
Rasa sakit atau tekanan pada bagian perut bawah maupun panggul dapat menjadi salah satu keluhan kanker ovarium, meskipun penyebabnya bisa sangat beragam.
4. Cepat Kenyang
Merasa kenyang setelah makan dalam jumlah yang lebih sedikit dari biasanya juga dapat menjadi salah satu gejala yang perlu diperhatikan apabila terjadi berulang.
5. Lebih Sering Buang Air Kecil
Dorongan untuk buang air kecil yang lebih sering atau mendesak dapat muncul pada sebagian pasien. Namun, gejala ini juga dapat disebabkan oleh infeksi saluran kemih maupun kondisi lainnya.
6. Gangguan Pencernaan
Sembelit, banyak gas, mual, atau perubahan pola buang air besar dapat muncul dan sering kali membuat seseorang mengira masalahnya hanya berkaitan dengan pencernaan.
7. Mudah Lelah
Rasa lelah yang tidak biasa dan terus berlangsung juga patut diperhatikan, terutama apabila disertai keluhan lainnya.
8. Perubahan Berat Badan
Penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas perlu mendapat perhatian, khususnya jika terjadi bersamaan dengan keluhan perut atau panggul.
Gejala-gejala tersebut tidak otomatis berarti kanker ovarium. Banyak kondisi lain yang dapat menimbulkan keluhan serupa. Namun, apabila keluhan menetap, semakin sering, atau berbeda dari kondisi biasanya, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.
Mengapa Kanker Ovarium Bisa Terjadi?
Ini bagian yang sering membuat masyarakat mencari jawaban sederhana.
Sayangnya, tidak ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan semua kasus kanker ovarium.
Kanker terjadi ketika sel mengalami perubahan yang membuatnya tumbuh dan berkembang secara tidak terkendali. Perubahan tersebut dapat berkaitan dengan faktor genetik yang diwariskan maupun perubahan DNA yang terjadi sepanjang hidup.
Dalam banyak kasus, penyebab pasti mengapa seseorang mengalami perubahan tersebut tidak dapat ditentukan dengan jelas.
Karena itu, penting membedakan antara penyebab dan faktor risiko.
Faktor risiko meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit, tetapi bukan berarti seseorang yang memiliki faktor tersebut pasti akan terkena kanker.
Dari Riwayat Keluarga sampai Endometriosis: Faktor Risiko yang Perlu Diketahui
Beberapa kondisi diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko kanker ovarium.
Riwayat Kanker dalam Keluarga
Memiliki ibu, saudara perempuan, atau anggota keluarga dekat yang pernah mengalami kanker ovarium dapat meningkatkan risiko.
Riwayat kanker payudara tertentu dalam keluarga juga dapat menjadi petunjuk adanya kemungkinan faktor genetik yang perlu dievaluasi lebih lanjut.
Perubahan Gen BRCA1 dan BRCA2
Perubahan tertentu pada gen BRCA1 dan BRCA2 dapat meningkatkan risiko kanker ovarium maupun kanker payudara.
Namun, memiliki perubahan gen tersebut bukan berarti seseorang pasti mengalami kanker.
Pada keluarga dengan riwayat kanker tertentu, konsultasi genetik dapat membantu memahami risiko secara lebih tepat.
Lynch Syndrome
Lynch syndrome merupakan kondisi genetik yang dapat meningkatkan risiko beberapa jenis kanker, termasuk kanker ovarium pada sebagian wanita.
Jika terdapat pola kanker tertentu yang berulang dalam keluarga, dokter dapat mempertimbangkan apakah evaluasi genetik diperlukan.
Endometriosis
Endometriosis merupakan kondisi ketika jaringan yang menyerupai lapisan rahim tumbuh di luar lokasi normalnya. Kondisi ini diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker ovarium.
Usia
Pertambahan usia merupakan salah satu faktor yang penting. Kanker ovarium lebih sering ditemukan pada wanita yang lebih tua, terutama setelah menopause.
Berat Badan Berlebih
Kelebihan berat badan atau obesitas juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker ovarium tertentu.
Terapi Hormon Setelah Menopause
Penggunaan terapi hormon tertentu setelah menopause dapat berkaitan dengan peningkatan risiko kanker ovarium. Karena manfaat dan risikonya berbeda pada setiap wanita, penggunaannya sebaiknya dibicarakan dengan dokter.
Sedikit Kontroversi: Apakah Pap Smear Bisa Menemukan Kanker Ovarium?
Ini salah satu kesalahpahaman yang cukup sering terjadi.
Pap smear bukan pemeriksaan untuk skrining kanker ovarium.
Pap smear terutama digunakan untuk mendeteksi perubahan sel pada leher rahim yang berkaitan dengan kanker serviks. Pemeriksaan tersebut tidak dirancang untuk mencari kanker ovarium pada wanita tanpa gejala.
Hal ini bukan berarti pemeriksaan kesehatan reproduksi tidak penting. Justru sebaliknya, pemeriksaan rutin tetap diperlukan sesuai usia dan kondisi kesehatan.
Namun, pemeriksaan untuk kanker ovarium harus disesuaikan dengan keluhan dan faktor risiko. Pada wanita yang memiliki gejala tertentu, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan seperti pemeriksaan panggul, USG transvaginal, atau pemeriksaan darah CA-125 sesuai kebutuhan klinis.
Tidak Ada Skrining Sederhana untuk Semua Wanita
Berbeda dengan kanker serviks yang memiliki metode skrining yang sudah mapan, saat ini belum ada pemeriksaan skrining yang sederhana dan cukup andal untuk mendeteksi kanker ovarium pada wanita yang tidak memiliki gejala.
Ini justru menjadi alasan mengapa mengenali perubahan tubuh sangat penting.
Bukan berarti setiap perut kembung harus dicurigai sebagai kanker. Yang perlu diperhatikan adalah pola keluhannya.
Jika suatu gejala:
- muncul berulang,
- berlangsung lebih lama dari biasanya,
- semakin sering,
- semakin berat,
- atau muncul bersama beberapa keluhan lainnya,
maka pemeriksaan medis layak dipertimbangkan.
Apakah Kanker Ovarium Bisa Dicegah?
Tidak ada cara yang dapat menjamin seseorang terbebas dari kanker ovarium.
Namun, beberapa faktor diketahui berkaitan dengan kemungkinan risiko yang lebih rendah, seperti pernah melahirkan, menyusui, penggunaan kontrasepsi oral tertentu, serta beberapa tindakan medis tertentu. Masing-masing memiliki manfaat dan risiko yang berbeda sehingga tidak boleh digunakan semata-mata untuk mencegah kanker tanpa pertimbangan medis.
Karena itu, pencegahan lebih tepat dilakukan dengan memahami faktor risiko pribadi, menjaga kesehatan secara umum, serta tidak mengabaikan keluhan yang menetap.
Kapan Keluhan Perut Perlu Dibawa ke Dokter?
Tidak semua keluhan perut membutuhkan pemeriksaan kanker. Namun, jangan terus-menerus mengabaikan perubahan tubuh yang terasa tidak biasa.
Pertimbangkan konsultasi apabila mengalami:
- Kembung berulang tanpa penyebab yang jelas.
- Perut terasa penuh atau membesar.
- Nyeri panggul atau perut yang menetap.
- Cepat kenyang secara tidak biasa.
- Perubahan pola buang air besar atau buang air kecil.
- Penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas.
- Keluhan yang semakin sering atau semakin berat.
Dokter akan menilai apakah gejala tersebut lebih mungkin disebabkan oleh gangguan pencernaan, saluran kemih, masalah reproduksi, atau kondisi lainnya.
Jangan Menunggu Sampai Semua Gejala Muncul
Kesalahan yang sering terjadi adalah menunggu sampai keluhan menjadi sangat berat sebelum mencari bantuan.
Padahal, seseorang tidak harus mengalami seluruh gejala untuk berkonsultasi.
Kanker ovarium juga dapat memiliki gejala yang samar. Karena itu, mengenali perubahan yang tidak biasa pada tubuh dan mendiskusikannya dengan tenaga medis merupakan langkah yang lebih bijak daripada melakukan diagnosis sendiri melalui internet.
FAQ Unik tentang Kanker Ovarium
Apakah perut sering kembung berarti terkena kanker ovarium?
Belum tentu. Kembung jauh lebih sering disebabkan oleh masalah lain. Namun, kembung yang menetap, berulang, atau disertai keluhan lain sebaiknya diperiksa.
Apakah wanita muda bisa terkena kanker ovarium?
Bisa. Risiko umumnya meningkat dengan usia, tetapi kanker ovarium dapat terjadi pada kelompok usia yang lebih muda, terutama pada kondisi tertentu seperti adanya faktor genetik.
Kalau tidak ada riwayat kanker keluarga, apakah aman dari kanker ovarium?
Tidak. Sebagian besar wanita yang mengalami kanker ovarium tidak selalu memiliki riwayat keluarga yang jelas. Riwayat keluarga memang merupakan salah satu faktor risiko, tetapi bukan satu-satunya.
Apakah Pap smear bisa memastikan ovarium sehat?
Tidak. Pap smear bukan pemeriksaan untuk mendeteksi kanker ovarium. Pemeriksaan tersebut berfokus pada perubahan sel leher rahim.
Apakah kanker ovarium selalu menyebabkan nyeri?
Tidak. Gejala dapat berbeda pada setiap orang dan pada tahap awal bisa samar atau bahkan tidak jelas.
Apakah memiliki gen BRCA berarti pasti terkena kanker ovarium?
Tidak. Perubahan BRCA meningkatkan risiko, tetapi bukan kepastian bahwa kanker akan terjadi. Jika terdapat riwayat keluarga yang kuat, konsultasi genetik dapat membantu menilai risiko secara lebih tepat.
Kenali Tubuh, Jangan Menebak Sendiri
Kanker ovarium memang perlu diwaspadai, tetapi bukan berarti setiap keluhan perut adalah tanda kanker.
Hal yang lebih penting adalah memahami pola perubahan tubuh, mengenali faktor risiko, dan tidak menunda konsultasi ketika keluhan terus berulang atau semakin mengganggu.
Jika Anda memiliki riwayat kanker ovarium atau kanker payudara dalam keluarga, mengalami keluhan perut atau panggul yang tidak biasa, atau ingin mengetahui apakah Anda memiliki faktor risiko tertentu, konsultasikan kondisi tersebut dengan tenaga medis. Pemeriksaan yang tepat dapat membantu mencari penyebab keluhan dan menentukan langkah selanjutnya sesuai kondisi Anda.