Vape, Nikotin, dan Risiko Diabetes pada Usia Muda: Ancaman yang Sering Tidak Disadari

Penulis :

Ilustrasi pria menggunakan vape dengan tema risiko diabetes dan nikotin pada usia muda bernuansa merah orange
Ketika membicarakan vape, perhatian masyarakat biasanya tertuju pada paru-paru, kecanduan nikotin, atau perbandingannya dengan rokok konvensional. Namun, ada satu aspek lain yang semakin menarik perhatian para peneliti: metabolisme tubuh dan risiko diabetes.

Vape sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang berbeda dari rokok biasa. Memang, keduanya memiliki cara penghantaran yang berbeda dan aerosol vape tidak terbentuk melalui proses pembakaran tembakau seperti asap rokok. Namun, banyak produk vape tetap mengandung nikotin, yaitu zat aktif yang memiliki efek biologis luas terhadap tubuh.


Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Nikotin tidak hanya bekerja pada otak. Ia juga dapat memengaruhi sistem saraf, hormon, pembuluh darah, serta mekanisme tubuh dalam mengatur kadar gula darah. Hal ini tidak berarti bahwa menggunakan vape secara langsung menyebabkan seseorang menjadi penderita diabetes. Bukti ilmiah saat ini belum cukup untuk membuat kesimpulan sebab-akibat tersebut. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan e-cigarette, resistensi insulin, dan gangguan metabolisme glukosa.

Dengan kata lain, nikotin dapat menjadi salah satu bagian dari lingkungan metabolik yang meningkatkan faktor risiko diabetes, terutama apabila seseorang juga memiliki faktor risiko lain.


Nikotin: Bukan Sekadar Zat yang Membuat Ketagihan

Nikotin dikenal terutama karena kemampuannya menyebabkan ketergantungan. Ketika masuk ke dalam tubuh, nikotin berinteraksi dengan reseptor yang disebut nicotinic acetylcholine receptors atau nAChRs. Reseptor ini terdapat di sistem saraf pusat maupun perifer. Aktivasi reseptor tersebut dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatis dan memicu pelepasan hormon serta neurotransmiter seperti adrenalin dan noradrenalin. Dalam kondisi tertentu, respons tersebut sebenarnya merupakan mekanisme normal tubuh.


Bayangkan ketika tubuh menghadapi keadaan yang membutuhkan energi cepat. Sistem saraf simpatis akan memberikan sinyal bahwa tubuh harus berada dalam kondisi siap menghadapi tekanan. Salah satu konsekuensinya adalah meningkatnya ketersediaan energi, termasuk glukosa di dalam darah. Masalahnya muncul apabila stimulasi semacam ini terjadi berulang kali dalam jangka panjang. Ketika Hati Diperintahkan Mengeluarkan Lebih Banyak Glukosa

Hati merupakan salah satu pusat pengaturan kadar gula darah. Ketika tubuh menerima sinyal hormonal seperti adrenalin, hati dapat meningkatkan glikogenolisis, yaitu pemecahan glikogen menjadi glukosa. Hati juga dapat meningkatkan glukoneogenesis, yaitu pembentukan glukosa baru dari bahan non-karbohidrat.


Tujuannya sebenarnya sederhana: menyediakan energi.

Namun, pada orang yang sudah memiliki gangguan sensitivitas insulin, peningkatan produksi glukosa oleh hati dapat menjadi salah satu faktor yang membuat kadar gula darah semakin sulit dikendalikan. Di sinilah hubungan antara nikotin dan metabolisme glukosa mulai terlihat.

Sebuah review mekanistik yang diterbitkan pada 2023 merangkum bukti dari penelitian manusia dan hewan mengenai pengaruh nikotin terhadap homeostasis glukosa. Review tersebut menemukan bahwa nikotin dapat memengaruhi kadar glukosa, toleransi glukosa, serta sensitivitas insulin melalui mekanisme sentral dan perifer.Jadi, efek nikotin bukan hanya persoalan paru-paru atau otak.


Masalah Berikutnya: Resistensi Insulin

Untuk memahami bagian ini, kita perlu melihat apa yang dilakukan insulin. Setelah kita makan, karbohidrat dicerna menjadi glukosa. Kadar glukosa darah kemudian meningkat. Pankreas merespons dengan menghasilkan insulin. Insulin bertugas memberi tahu berbagai sel tubuh bahwa glukosa tersedia dan dapat digunakan atau disimpan.


Pada otot, salah satu jalur pentingnya adalah:


Insulin → reseptor insulin → IRS → PI3K → AKT → GLUT4 → glukosa masuk ke sel otot


GLUT4 dapat dianggap sebagai salah satu “pintu masuk” glukosa ke dalam sel otot yang responsnya sangat dipengaruhi oleh insulin. Pada kondisi resistensi insulin, sinyal insulin tidak lagi bekerja seefektif sebelumnya. Akibatnya, tubuh membutuhkan insulin lebih banyak untuk mendapatkan efek yang sama. Pankreas pada awalnya dapat melakukan kompensasi dengan memproduksi lebih banyak insulin. Tetapi jika kondisi resistensi insulin berlangsung lama, kemampuan kompensasi sel beta pankreas dapat menjadi tidak mencukupi. Kadar glukosa kemudian mulai meningkat. Tahap ini dapat berkembang dari resistensi insulin menuju prediabetes, dan pada sebagian orang akhirnya menjadi diabetes tipe 2.


Apakah Nikotin Langsung Menyebabkan Resistensi Insulin?

Di sinilah kita perlu berhati-hati. Penelitian memang menemukan hubungan antara paparan nikotin dan gangguan sensitivitas insulin. Namun, mengatakan bahwa “nikotin pasti menyebabkan diabetes” merupakan kesimpulan yang terlalu jauh. Diabetes tipe 2 merupakan penyakit multifaktorial. Genetik, obesitas terutama lemak visceral, pola makan, kurang aktivitas fisik, kualitas tidur, usia, stres, riwayat keluarga, dan berbagai faktor metabolik lainnya ikut menentukan risiko seseorang. Nikotin kemudian dapat menjadi salah satu faktor tambahan yang berpotensi mengganggu keseimbangan metabolisme tersebut. Jadi, seseorang yang menggunakan vape tidak otomatis akan terkena diabetes. Tetapi seseorang yang sudah memiliki berbagai faktor risiko metabolik mungkin tidak mendapatkan keuntungan kesehatan dari menambahkan paparan nikotin secara terus-menerus.


Bukti Penelitian Terbaru

Pertanyaan mengenai vape dan diabetes kini mulai mendapatkan perhatian lebih besar. Sebuah systematic review dan meta-analysis yang terbit pada 2026 menggabungkan 10 penelitian dengan jumlah peserta lebih dari 2,8 juta orang. Penelitian tersebut secara khusus mengevaluasi hubungan penggunaan e-cigarette dengan prediabetes, diabetes, dan resistensi insulin. Hasilnya cukup menarik. Pada pengguna e-cigarette eksklusif, analisis gabungan menemukan hubungan dengan resistensi insulin, dengan odds ratio sekitar 1,37 dibandingkan mereka yang tidak menggunakan e-cigarette. Untuk prediabetes, pengguna e-cigarette eksklusif juga menunjukkan peningkatan odds sekitar 34 persen dalam analisis tersebut.

Namun, ketika peneliti melihat diabetes yang sudah terjadi, hasilnya tidak menunjukkan hubungan yang konsisten pada pengguna vape eksklusif. Ini sangat penting. Artinya, penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa vape menyebabkan diabetes. Sebaliknya, hasilnya memberikan sinyal bahwa penggunaan e-cigarette mungkin berkaitan dengan perubahan metabolik tertentu, khususnya resistensi insulin dan prediabetes. Karena sebagian besar penelitian yang dianalisis bersifat cross-sectional, hubungan sebab-akibat masih perlu dibuktikan melalui penelitian prospektif jangka panjang.


Bagaimana Jika Pengguna Vape Juga Merokok?

Persoalannya menjadi lebih kompleks pada orang yang menggunakan vape sekaligus rokok konvensional. Kondisi ini disebut dual use. Rokok konvensional sendiri telah lama dikaitkan dengan berbagai gangguan metabolik. Oleh karena itu, ketika seseorang menggunakan kedua produk tersebut, paparan nikotin dan zat lainnya dapat berasal dari dua sumber.

Dalam meta-analysis 2026 tadi, hubungan yang signifikan dengan diabetes justru terlihat pada kelompok pengguna ganda, sedangkan hubungan tersebut tidak ditemukan secara konsisten pada pengguna vape eksklusif. Temuan ini sekali lagi menunjukkan mengapa kita tidak boleh menyederhanakan persoalan menjadi “vape menyebabkan diabetes”. Yang dapat dikatakan berdasarkan bukti saat ini adalah bahwa penggunaan vape, terutama produk yang mengandung nikotin, berpotensi menjadi bagian dari faktor yang memengaruhi kesehatan metabolik.


Mengapa Hal Ini Penting bagi Anak Muda?

Salah satu alasan pembahasan ini penting adalah usia ketika seseorang mulai terpapar nikotin.

Diabetes tipe 2 tidak muncul secara tiba-tiba. Pada banyak kasus, proses menuju diabetes dapat berlangsung bertahun-tahun. Seseorang dapat mengalami resistensi insulin terlebih dahulu. Tubuh kemudian melakukan kompensasi dengan meningkatkan produksi insulin. Selama kompensasi masih memadai, kadar glukosa mungkin tetap berada dalam batas normal.

Tetapi apabila berbagai faktor risiko terus bertambah, sistem tersebut dapat kehilangan kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan. Karena itu, ketika seseorang mulai terpapar nikotin sejak usia muda dan mempertahankan kebiasaan tersebut selama bertahun-tahun, pertanyaannya bukan apakah vape akan “langsung membuat diabetes”.


Pertanyaannya adalah apakah paparan tersebut ikut menambah beban metabolik yang sudah berasal dari faktor-faktor lain. Untuk menjawab pertanyaan tersebut secara definitif, penelitian jangka panjang masih diperlukan. Vape Bukan Berarti Sama dengan Rokok Konvensional

Perbandingan antara vape dan rokok konvensional juga harus dilakukan secara hati-hati.

Vape tidak bekerja melalui pembakaran tembakau seperti rokok konvensional, sehingga karakteristik paparannya berbeda. Karena itu, tidak tepat mengatakan bahwa kedua produk tersebut identik. Namun, dari sudut pandang nikotin, terdapat satu kesamaan penting:

keduanya dapat menjadi sumber paparan nikotin. Maka, mengganti rokok konvensional dengan vape tidak berarti seseorang otomatis terbebas dari efek biologis nikotin. Dan bagi seseorang yang sebelumnya tidak menggunakan produk nikotin, memulai vape berarti memperkenalkan zat adiktif tersebut ke dalam tubuh.


Kesimpulannya vape tidak dapat disebut sebagai penyebab langsung diabetes berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia saat ini. Namun, semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa nikotin dapat memengaruhi sistem yang mengatur kadar glukosa dan sensitivitas insulin. Aktivasi sistem saraf simpatis, perubahan hormon, peningkatan ketersediaan glukosa, serta kemungkinan gangguan sensitivitas insulin merupakan beberapa mekanisme yang sedang diteliti. Penelitian epidemiologis terbaru juga menemukan hubungan antara penggunaan e-cigarette dengan resistensi insulin dan prediabetes, meskipun hubungan dengan diabetes tipe 2 belum konsisten dan belum membuktikan sebab-akibat. Karena diabetes merupakan penyakit multifaktorial, nikotin sebaiknya dipandang sebagai salah satu faktor yang berpotensi meningkatkan beban risiko, bukan sebagai satu-satunya penyebab.


Pesan sederhananya adalah: 

Vape bukan sekadar uap. Jika mengandung nikotin, tubuh tetap menerima zat aktif yang dapat memengaruhi sistem saraf dan metabolisme. Dan ketika berbicara tentang diabetes, gangguan kecil pada sensitivitas insulin yang berlangsung lama dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju gangguan metabolisme yang lebih serius.

Karena itu, terutama bagi orang yang masih muda, pertanyaan yang perlu dipikirkan bukan hanya “Apakah vape lebih aman daripada rokok?”, tetapi juga “Apakah saya benar-benar membutuhkan paparan nikotin jika sebelumnya saya bukan pengguna rokok?”


Share on:

Konsul Gratis Konsul Gratis