Bubur Sumsum: Manis dan Gurih, Bagaimana dengan Gula Darah?
Penulis :
Semangkuk bubur sumsum yang lembut, gurihnya santan, ditambah guyuran kuah gula merah yang legit—siapa yang bisa menolak jajanan pasar satu ini? Karena gampang banget ditelan, wajar kalau bubur ini disukai semua umur. Tapi buat yang lagi harus ketat jaga gula darah atau punya diabetes, jajan bubur sumsum suka bikin ragu. Sebenarnya aman nggak sih, atau jangan-jangan malah bikin gula darah naik tajam?
Masalahnya, kita sering banget ketipu sama rasanya. Karena buburnya sendiri terasa gurih, kita suka berpikir, "Ah, kalau kuah gulanya sedikit saja, pasti aman buat gula darah."
Ingat, bahan utama bubur ini adalah tepung beras. Sama seperti nasi putih, tepung beras itu sumber karbohidrat yang bakal diubah tubuh menjadi gula. Jadi, meskipun kamu sengaja cuma makan bagian bubur gurihnya tanpa kuah manis sedikit pun, semangkuk bubur sumsum itu tetap menyumbang karbohidrat yang bisa menaikkan gula darahmu.
Jebakan kedua ada pada kuah kincanya. Sering juga muncul anggapan, "Ah, kuahnya kan pakai gula aren, pasti lebih alami dan aman dibanding gula putih biasa." Jangan salah. Tubuh kita nggak membedakan dari mana asalnya. Begitu masuk ke perut, gula merah atau gula putih tetap dibaca sebagai gula cair yang membebani pankreas. Ketika dicairkan dan disiram melimpah ruah ke atas mangkukmu, kalori cair ini harus diproses ekstra keras oleh tubuh. Status "jajanan tradisional" sama sekali tidak menjamin sebuah makanan itu rendah karbohidrat atau bebas kalori.
Lantas, apakah orang dengan diabetes harus anti makan bubur sumsum selamanya?
Kabar baiknya: tentu saja tidak. Mengelola gula darah tidak lantas membuatmu dilarang menyentuh makanan tradisional favoritmu selamanya. Yang menjadi masalah bukanlah bubur sumsumnya itu sendiri, melainkan seberapa banyak dan bagaimana caramu memakannya.
Kamu masih bisa bernostalgia dengan jajanan ini lewat beberapa trik kompromi:
- Gunakan mangkuk kecil: Jangan makan dalam porsi besar. Semangkuk kecil (seukuran mangkuk es krim) sudah cukup untuk menuntaskan kangen pada rasa manis dan gurihnya.
- Rem guyuran kuah manisnya: Alih-alih merendam buburmu sampai berenang di dalam kuah gula merah, cukup tuang satu atau dua sendok saja sebagai penambah aroma dan rasa.
- Perhatikan "teman makannya": Kalau sore ini kamu berencana jajan bubur sumsum, pastikan menu makan siang dan makan malammu tidak didominasi karbohidrat tinggi (seperti nasi porsi besar atau mi) agar kuota karbohidrat harianmu tidak jebol.
- Jangan lupa soal santannya: Memang sih santan nggak bikin gula darah langsung melonjak tajam layaknya sirup. Tapi santan itu lumayan tinggi kalori dan lemak. Kalau terlalu sering jajan makanan bersantan kental, berat badan lebih gampang naik. Perut yang perlahan membuncit justru akan membuat tubuhmu makin susah mengatur gula darah.
Setiap tubuh bereaksi berbeda terhadap makanan. Ada yang gula darahnya tetap aman terkendali setelah makan bubur sumsum porsi kecil, ada pula yang langsung meroket padahal rasanya tidak terlalu manis. Itulah mengapa mengelompokkan makanan menjadi daftar "hitam" dan "putih" secara kaku sering kali membuat kita stres sendiri.
Jika setelah makan makanan tertentu kamu mulai sering merasa haus luar biasa, lemas, lapar terus-menerus, atau hasil cek gula darahmu memburuk, jangan sekadar menebak-nebak. Daripada hanya mencoret bubur sumsum dari daftar menumu, berkonsultasi dengan tenaga medis di fasilitas seperti Klinik Utama CMI bisa memberikanmu gambaran yang lebih pasti. Dengan panduan gizi yang disesuaikan kondisi tubuhmu, kamu bisa tetap menjaga gula darah tetap stabil tanpa harus kehilangan momen menikmati jajanan kesukaanmu.