Martabak Manis: Mengapa Bisa Membuat Gula Darah Melonjak?

Penulis :

Martabak manis dan dampaknya terhadap kenaikan gula darah

Martabak manis adalah salah satu jajanan yang sulit ditolak. Teksturnya lembut, bagian pinggirnya sedikit renyah, lalu diberi berbagai topping seperti cokelat, keju, kacang, meses, susu kental manis, hingga varian kekinian dengan jumlah topping yang semakin “berani”.

Masalahnya bukan sekadar soal manis.

Sepotong martabak manis dapat mengandung kombinasi karbohidrat olahan, gula tambahan, lemak, dan topping yang membuat total kalorinya menjadi cukup tinggi. Bagi seseorang yang memiliki diabetes atau sedang berusaha menjaga kadar gula darah, kombinasi tersebut perlu diperhatikan.

Lalu, apakah penderita diabetes harus benar-benar berhenti makan martabak?

Belum tentu sesederhana itu.

Yang lebih penting adalah memahami mengapa martabak manis dapat menyebabkan gula darah meningkat, seberapa banyak yang dikonsumsi, serta bagaimana makanan tersebut masuk ke dalam pola makan sehari-hari.

Bukan Cuma Karena Rasanya Manis

Ketika membicarakan makanan yang dapat meningkatkan gula darah, perhatian sering langsung tertuju pada gula.

Padahal, tubuh juga mengubah karbohidrat menjadi glukosa. Artinya, makanan yang tidak terasa terlalu manis pun tetap dapat memengaruhi kadar gula darah apabila mengandung banyak karbohidrat.

Martabak manis biasanya dibuat menggunakan tepung terigu sebagai bahan utama. Tepung tersebut kemudian dikombinasikan dengan gula, telur, susu atau bahan lainnya.

Setelah matang, martabak dapat diberi berbagai topping.

Di sinilah jumlah karbohidrat dan gula bisa semakin bertambah.

Jadi, penyebab gula darah melonjak setelah makan martabak bukan hanya karena taburan gula atau cokelatnya. Adonan dan keseluruhan kombinasi bahan juga berperan.

Bagi pembaca yang ingin memahami lebih jauh mengenai hubungan makanan dengan kanker, Anda juga dapat membaca artikel [Hubungan Pola Makan dengan Risiko Terjadinya Kanker].

Perjalanan Martabak dari Mulut ke Gula Darah

Bayangkan seseorang mengonsumsi martabak manis dalam jumlah cukup banyak.

Karbohidrat dari tepung dan gula dicerna menjadi glukosa. Glukosa kemudian masuk ke aliran darah. Tubuh membutuhkan insulin untuk membantu glukosa masuk ke sel dan digunakan sebagai energi.

Pada orang yang sehat, tubuh biasanya dapat mengatur proses tersebut.

Namun, pada seseorang dengan diabetes atau resistensi insulin, pengaturan gula darah dapat terganggu. Akibatnya, setelah makanan tinggi karbohidrat dan gula dikonsumsi, kadar glukosa darah dapat meningkat lebih tinggi atau bertahan lebih lama.

Itulah sebabnya seseorang mungkin merasa baik-baik saja setelah makan martabak, tetapi pemeriksaan gula darah beberapa waktu kemudian menunjukkan angka yang lebih tinggi.

Tidak adanya gejala bukan berarti gula darah tidak berubah.

Ini salah satu alasan mengapa kondisi seperti diabetes kadang tidak disadari dalam waktu lama.

Yang Membuat Martabak “Berat” Bukan Hanya Satu Bahan

Ada beberapa komponen dalam martabak manis yang perlu diperhatikan.

Tepung: Sumber Karbohidrat yang Sering Dilupakan

Adonan martabak umumnya menggunakan tepung terigu.

Walaupun tepung tidak terasa semanis gula, kandungan karbohidratnya tetap dapat berkontribusi terhadap kenaikan gula darah setelah makan.

Jika porsi martabak besar, jumlah adonan yang dikonsumsi juga semakin banyak.

Gula Tambahan

Gula yang terdapat dalam adonan dapat menambah jumlah gula yang dikonsumsi.

Belum selesai sampai di situ.

Pada beberapa jenis martabak, masih ditambahkan gula atau bahan pemanis lainnya saat proses pembuatan maupun penyajian.

Susu Kental Manis

Susu kental manis sering menjadi salah satu pelengkap martabak.

Rasanya memang membuat martabak semakin gurih dan manis. Namun, penggunaannya juga dapat meningkatkan asupan gula secara keseluruhan.

Masalahnya muncul ketika susu kental manis tidak lagi sekadar pelengkap, tetapi digunakan dalam jumlah cukup banyak bersama topping lainnya.

Topping yang Bertumpuk

Cokelat, meses, kacang, keju, biskuit, selai, dan berbagai topping lainnya membuat martabak semakin menarik.

Tetapi semakin banyak topping, semakin sulit menganggap satu potong martabak sebagai “camilan kecil”.

Apalagi jika satu loyang dimakan bersama beberapa potong dalam waktu singkat.

Bagian Paling Kontroversial: Martabak Harus Dihindari Total?

Tidak juga.

Ini bagian yang sering dibuat terlalu hitam-putih.

Ada anggapan bahwa penderita diabetes harus menghapus seluruh makanan manis dari kehidupan mereka. Sebaliknya, ada pula anggapan bahwa selama menggunakan obat diabetes, seseorang bebas makan apa saja.

Keduanya sama-sama tidak ideal.

Pengelolaan diabetes bukan sekadar menentukan makanan mana yang “haram” dan mana yang “boleh”. Jumlah makanan, komposisi menu, aktivitas fisik, obat yang digunakan, kondisi kesehatan, dan kadar gula darah semuanya dapat memengaruhi pengelolaan diabetes.

Jadi, persoalannya bukan semata-mata:

“Bolehkah makan martabak?”

Pertanyaan yang lebih berguna adalah:

“Berapa banyak, seberapa sering, dan bagaimana martabak tersebut masuk ke pola makan saya?”

Untuk sebagian orang, mencicipi porsi kecil sesekali mungkin lebih realistis daripada membuat larangan total yang akhirnya sulit dipertahankan.

Namun, orang dengan diabetes tetap perlu menyesuaikan pola makan dengan kondisi masing-masing dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan.

Mengapa Sepotong Bisa Berubah Menjadi Banyak?

Ada satu masalah yang sering tidak disadari: ukuran porsi.

Martabak manis biasanya disajikan dalam ukuran besar dan dipotong-potong. Karena sudah berbentuk potongan kecil, seseorang dapat merasa seolah-olah hanya makan “sedikit”.

Padahal, beberapa potong dapat dengan cepat menjadi satu porsi besar.

Belum lagi jika martabak disantap sambil menonton televisi, bekerja, berbincang, atau minum minuman manis.

Dalam kondisi seperti itu, perhatian terhadap jumlah makanan yang masuk sering berkurang.

Karena itu, bukan hanya jenis makanan yang perlu diperhatikan. Cara kita makan juga berpengaruh.

Martabak Keju, Cokelat, atau Kacang: Mana yang Lebih Aman?

Tidak ada satu pilihan topping yang otomatis membuat martabak menjadi makanan “aman untuk diabetes”.

Keju dapat menambah lemak dan kalori. Cokelat dan meses dapat menambah gula. Kacang memang memiliki komponen gizi yang berbeda, tetapi tetap menambah energi ketika dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Masalah utamanya adalah total komposisi dan porsinya.

Martabak dengan sedikit topping tentu berbeda dengan martabak yang dipenuhi cokelat, keju, meses, biskuit, selai, dan susu kental manis sekaligus.

Semakin kompleks topping yang digunakan, semakin besar kemungkinan total energi dan gula yang dikonsumsi ikut meningkat.

Kalau Sudah Makan Martabak, Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Tidak perlu panik.

Satu kali makan martabak tidak otomatis menyebabkan seseorang mengalami diabetes. Begitu juga satu kali makan makanan manis tidak langsung menentukan kondisi kesehatan seseorang dalam jangka panjang.

Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan secara konsisten.

Setelah makan dalam jumlah lebih banyak dari rencana, jangan membalasnya dengan tidak makan sama sekali. Kembali ke pola makan yang lebih seimbang pada waktu makan berikutnya.

Aktivitas fisik juga merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan metabolik. Bagi orang dengan kondisi tertentu, aktivitas fisik perlu disesuaikan dengan kemampuan dan anjuran dokter.

Jika Anda sudah memiliki diabetes, pemantauan gula darah sesuai jadwal yang dianjurkan tenaga kesehatan juga penting.

Bagaimana Menikmati Martabak Tanpa “Kebablasan”?

Jika Anda sehat dan sesekali ingin makan martabak, beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu mengontrol porsinya.

Pertama, tentukan porsi sebelum mulai makan. Jangan menjadikan satu loyang sebagai ukuran “sekali makan”.

Kedua, pilih topping secukupnya. Tidak semua topping harus ditumpuk dalam satu martabak.

Ketiga, perhatikan minuman pendamping. Martabak manis ditambah minuman berpemanis dapat membuat asupan gula semakin tinggi.

Keempat, jangan menjadikan makanan manis sebagai kebiasaan setiap hari. Sesekali berbeda dengan konsumsi rutin.

Kelima, perhatikan pola makan secara keseluruhan. Satu makanan tidak berdiri sendiri. Menu sebelum dan sesudahnya juga ikut menentukan kualitas pola makan.

Anda juga bisa membaca [Kebiasaan Sehari-Hari yang Bisa Merusak Fungsi Ginjal], terutama jika ingin memahami mengapa pola makan dan gaya hidup perlu diperhatikan bukan hanya untuk diabetes, tetapi juga kesehatan organ lainnya.

Siapa yang Perlu Lebih Berhati-Hati?

Orang dengan diabetes tentu perlu memberikan perhatian lebih terhadap makanan tinggi karbohidrat dan gula.

Begitu pula seseorang yang memiliki resistensi insulin, kadar gula darah yang sudah meningkat, atau kondisi metabolik tertentu.

Namun, bukan berarti orang yang tidak memiliki diabetes boleh mengonsumsi makanan tinggi gula dan kalori tanpa batas.

Pola makan yang terlalu sering tinggi gula dan energi dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan dan berbagai masalah metabolik.

Karena itu, menjaga pola makan bukan hanya tugas orang yang sudah sakit.

Justru lebih baik dilakukan sebelum masalah muncul.

Gula Darah Naik Setelah Makan, Apakah Berarti Diabetes?

Belum tentu.

Kadar gula darah memang dapat meningkat setelah seseorang makan. Itu merupakan respons normal tubuh.

Yang menjadi masalah adalah ketika kadar gula darah secara konsisten berada di atas batas normal atau memenuhi kriteria diagnosis diabetes berdasarkan pemeriksaan yang sesuai.

Karena itu, jangan mendiagnosis diabetes hanya karena merasa mengantuk setelah makan martabak atau karena sekali mendapatkan hasil gula darah yang tinggi.

Jika ada kekhawatiran mengenai gula darah, pemeriksaan medis jauh lebih bermanfaat daripada menebak berdasarkan gejala.

FAQ: Pertanyaan “Receh” tentang Martabak yang Ternyata Penting

Apakah martabak manis langsung menyebabkan diabetes?

Tidak. Diabetes tidak disebabkan oleh satu kali makan martabak. Diabetes merupakan kondisi kompleks yang melibatkan faktor genetik, metabolisme, berat badan, aktivitas fisik, pola makan, dan faktor lainnya.

Kalau martabaknya tidak terlalu manis, apakah aman untuk gula darah?

Belum tentu. Rasa manis bukan satu-satunya penentu. Tepung dan jumlah karbohidrat dalam makanan tetap dapat memengaruhi kadar glukosa darah.

Apakah martabak tanpa topping lebih baik?

Mengurangi topping manis dapat mengurangi tambahan gula dan kalori, tetapi adonan martabak tetap mengandung karbohidrat. Jadi, porsinya tetap perlu diperhatikan.

Bolehkah penderita diabetes makan martabak?

Tidak bisa dijawab dengan “boleh” atau “tidak boleh” untuk semua orang. Kondisi diabetes setiap orang berbeda. Porsi, frekuensi, pengobatan, aktivitas, dan kontrol gula darah perlu dipertimbangkan.

Kenapa setelah makan martabak saya cepat mengantuk?

Rasa mengantuk setelah makan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor dan tidak otomatis berarti gula darah sedang sangat tinggi. Jika keluhan sering terjadi atau disertai gejala lain, pemeriksaan kesehatan dapat membantu mencari penyebabnya.

Lebih berbahaya martabak atau minuman manis?

Keduanya dapat berkontribusi terhadap asupan gula. Perbandingan sebenarnya bergantung pada jenis, ukuran porsi, bahan, dan jumlah yang dikonsumsi.

Martabak Boleh Jadi Kenikmatan, Bukan Kebiasaan

Martabak manis bukan makanan yang harus ditakuti.

Tetapi menganggapnya sebagai camilan biasa juga kurang tepat jika porsinya besar dan toppingnya berlebihan. Kombinasi tepung, gula, susu kental manis, serta berbagai topping dapat membuat kandungan karbohidrat, gula, dan energi menjadi cukup tinggi.

Bagi orang yang memiliki diabetes atau sedang mengalami masalah gula darah, perhatian terhadap porsi menjadi semakin penting.

Pada akhirnya, kesehatan bukan tentang tidak pernah makan makanan favorit.

Kesehatan lebih banyak ditentukan oleh bagaimana kita mengatur kebiasaan secara konsisten.

Kalau Anda sering mengalami gula darah tinggi, memiliki hasil pemeriksaan yang mengkhawatirkan, atau bingung menentukan pola makan yang sesuai dengan kondisi tubuh, jangan hanya mengandalkan informasi dari internet.

Konsultasi dengan tenaga medis dapat membantu mengetahui kondisi Anda secara lebih tepat dan menentukan langkah yang sesuai.

CMI Hospital dapat menjadi tempat untuk berkonsultasi mengenai kondisi kesehatan dan mendapatkan evaluasi berdasarkan keadaan masing-masing. Karena kebutuhan setiap orang berbeda, pendekatan terhadap pola makan dan kesehatan metabolik pun sebaiknya tidak dibuat dengan satu aturan untuk semua orang.

Share on: